Monday, July 27, 2015

NEW 2016 BMW 7 Series Review





Setelah saya pelajari review dari model terbaru New BMW 7 Series, ini akan manjadikan rival terberat untuk Mercedes-Benz S-Class disamping model aerodynamic yang bisa diatur melalui grill New BMW 7 Series, model yang ditampilkan juga sangat luar biasa terlihat agresive dan lebih youthful.



Teknologi yang diusung pun tidak tanggung-tanggung dari Automatic Parking pull-in dan pull-out yang ter integrasi dengan display key remote memberikan  kenyamanan untuk parkir di tempat yang sempit tanpa harus pusing memikirkan space yang ada. Desian display key remote juga dibuat semewah mungkin dengan sistem touch screen dan chroome di ke dua sisi-nya. Setelah parkir sempurna maka secara automatis mesin akan mati dengan sendirinya.



Disamping menggunakan high quality finish untuk bagian interior, inovasi yang dibeikan oleh New BMW 7 Series adalah kita dapat mengoperasikan atau berinteraksi dengan mobil ini menggunakan gerakan tangan saja untuk berbagai aktivitas dalam penggunaan media di mobil ini. Sangat mudah dan nyaman sehingga ini tidak mengganggu anda dalam berkendara. Ada 5 sistem pergerakan tangan yang dimana ini berfungsi untuk masing-masing kebutuhan seperti menerima telephone, volume suara dan lain sebagainya. Disamping itu layar sudah dilengkapi dengan sistem touch screen dimana mempermudah kita dalam mengoperasionalkan apabila kita mau melihat detail didalam sistem GPS.



New sistem Head-Up Display yang terbaru diberikan oleh New BMW 7 Series juga lebih baik dimana dapat menampilan peta, arah tujuan, kecepatan, dan traffic sign. Ini sangat membantu sekali dalam berkendara dan sangat nyaman tanpa harus menggangu konsentrasi pandangan kita dari jalan.



New BMW 7 Series juga dilengkapi dengan gadget BMW Touch Command dimana alat ini seperti asisten anda yang dapat mengoperasionalkan 24 fungsi yang berbeda untuk comfot, entertainment dan navigasi di mobil ini tanpa harus bersusah payah, semuanya menjadi sangat nyaman dengan satu sentuhan remote control ini, untuk teknologi ini saya acungkan jempol dan ini sangat menjadi pilihan para CEO muda dalam mendapatkan kenyamanan. Teknologi Sky Longue yang diberikan oleh New BMW 7 Series menambah kemewahan didalam interior mobil ini, dimana pengaturan cahaya dan warna dapat diatur sesuai dengan mood penumpang. Seperti kenyamanan di dalam sebuah cabin udara kelas dunia.



Ellegant Light Carpet dilengkapi didalam mobil ini untuk menciptakan luxury dari New BMW 7 Series, anda tidak perlu red carpet lagi untuk masuk dan keluar dari mobil luxury ini karena sudah dilengkapi sebuah ambient lightning yang menyinari dengan degain yang sangat elegan. Buat saya ini adalah sesuatu yang baru dan detail desain-nya sangat mempesona.



Teknologi yang dihadirkan oleh New BMW 7 Series juga New Laserlight System yang dapat memberikan pencahayaan hingga menjangkau 600m, dimana ini memberikan kenyamanan berkendara dimalam hari namun tidak menyilaukan pengendara lain.



Beberapa bagian part dari New BMW 7 Series sudah menggunakan sistem teknologi carbon fiber sehingga lebih ringan 130kg yang pastinya ini akan berpengaruh kepada dynamic driving dan meningkatnya fuel efficientcy. Sehingga mobil ini tidak boros BBM pada saat anda menggunakan-nya.



Teknology Active Chasis Component yang di usung didalam New BMW 7 Series memberikan kenyamanan yang sangat tinggi hingga anda tidak akan merasakan adanya bumpy road lagi, ini memberikan kenyamanan terbaik dikelas-nya. Disamping itu juga mobil ini banyak dilengkapi dengan Safety Assistant System sehingga tidak hanya nyaman tapi sistem keamanan yang sangat unggul agar terhindar dari resiko kecelakaan saat berkendara.



Apakah ini adalah salah satu mobil yang harus anda miliki di tahun 2016. Jawaban saya adalah PASTI.

Monday, February 9, 2015

7 langkah dalam menciptakan team yang diandalkan.


1. Kumpulkan beberapa anggota team yang memiliki prilaku selalu mau terlibat dalam aktivitas. Apabila anda salah memilih, secepatnya perbaiki pilihan anda dengan cara yang tepat.


2. Tentukan prioritas dan pastikan seluruh team mengerti dan memiliki pemahaman yang sama mengenai prioritas ini.


3. Biarkan team anda melakukan pekerjaan-nya. Hindari melakukan micromanagement.


4. Hilangkan hambatan seperti birokrasi, politik, prosedur atau sumber daya yang terbatas, dimana dapat menghambat kinerja team anda dalam menyelesaikan tugas nya.


5. Ungkapkan rasa terima kasih setiap saat pekerjaan yang diselesaikan.


6. Bawa keluar segala amarah atau emosi negatif akibat suatu kesalahan tanpa harus mengkaitkan secara personal ke dalam team.


7. Pada saat team mencapai kesuksesan, duduklah di belakang dan biarkan lampu panggung menyorot anggota team anda yang telah melakukan kerja keras-nya selama ini.


Sukses selalu :) 

Monday, January 12, 2015

Menjadi seorang "sales person", yes or nope?



Ini akan menjadi hal perbincangan menarik apabila kita membahas apakah karir yang kita impikan adalah menjadi seorang penjual. Saya rasa juga kalau kita survey ke seluruh anak SD dan kita tanya apa cita-cita anda, kemungkinan kita tidak akan pernah mendengar mereka akan menjadi seorang penjual... (Ya gak sih???)

Sales pekerjaan bergengsi?
Nah ini nih kalau di bahas lebih mendalam, kebanyakan profesi penjual itu selalu dianggap kurang bergengsi atau tidak menjanjikan sehingga biasanya para professional sales ini sering terkena dampak jomblo sejati atau di takutin dengan teman-teman sekitar-nya (takut entar di prospekin lagi...).

Well menurut saya seorang penjual itu adalah profesi yang sangat keren sekali.. Kenapa tidak? Mari kita telaah lebih dalam..


1. Fashionable
Tidak hanya seorang artist atau fashion designer loh yang fashionable. Tapi ternyata seorang penjual dituntut harus sangat fashionable dan well grooming didalam pekerjaan keseharian-nya. 

Don't judge a book by it's cover? Well it's only a myth in our reality life.

Seorang penjual harus dapat menjadi reprensetatif yang diandalkan. Sebelum dia dapat menjual product/service -nya dia harus dapat menjual diri (penampilan-nya) -nya dihadapan calon pembeli-nya sehingga dia menjadi penjual yang dapat dipercaya. Setidak-nya orang akan berpikir saya berhadapan dengan orang yang tepat. So working with fashion, bukankah ini sangat kereenn.


2. Society people
Seorang penjual gak hanya dituntut berjualan tetapi juga harus memiliki tingkat pergaulan yang sangat luas. Hal ini bukan untuk berjualan, tetapi dengan luasnya tingkat pergaulan seorang penjual dia bisa banyak mendapatkan informasi apa yang terjadi dipangsa pasar saat ini, bagaimana minat konsumen saat ini, arah perubahan bisnis  dan bagai mana mengoptimalkan target market-nya.

Sangat berbeda dengan back office yang tidak terlalu di tuntut kegiatan ini didalam pekerjaan keseharian-nya. Sehingga sosialita nya memiliki scope yang monoton.

Belum lagi kalo ada event-event yang lagi nge-trend atau hitz... Baik itu yang bersifat professional atau non-professional; dari yang level high society  sampai yang common society sudah pasti seorang penjual professional akan hadir disana.. Selain untuk eksis ya pasti juga berkaitan dengan pekerjaan-nya kaann.



3. Fine dinning
Makan di restoran mahal di siang hari atau malam hari? Jangan heran, ini bisa jadi keseharian seorang penjual professional. Banyak-nya pertemuan yang mereka dengan klien terkadang sering dilakukan di tempat yang lebih bersifat non-formal. 

Mungkin karena ada istilah"don't talk business at the office, it's a place for work not business."

Nah hasilnya kebanyakan pertemuan berbicara mengenai bisnis selalu dimulai ditempat yang seru, seperti cafe, reso, bar atau tempat lain-nya yang bisa berbincang lebih santai. Nah kurang bergengsi apa coba pekerjaan ini? Apalagi kalau sambil di selingi exsistensi di sosial media dengan tempat-tempat yang wahhh... 



4. Full pocket
Gaji penjual itu kecil loh... Apalagi pendapatan-nya gak tetap. Apa yang mau diharapkan?

Jangan salah, seorang penjual profesional sejati tidak pernah melirik ke fix income (gaji) melainkan selalu berbasis kepada komisi dan bonus dari hasil penjualan-nya. Semakin banyak dia melakukan penjualan-nya maka semakin besar isi kantong-nya.

Inilah yang tidak pernah didapatkan di dunia back office, mereka hanya memiliki fix income yang nilainya selalu sama setiap bulan-nya. Sedangkan seorang sales bisa mengatur bulan ini mau mendapatkan income berapa tanpa haris merusak cash flow isi kantong-nya. 

Akan menjadi sangat tidak asik apabila suatu hari ada barang yang kamu suka  seperti gadget baru, tas atau sepatu tapi kamu harus bersabar karena isi kantong mu tidak mencukupi, namun hal ini tidak akan pernah terjadi kepada seorang penjual yang sukses.



5. Flexible time
Memiliki waktu kerja yang flexible adalah impian semua pegawai. Sama hal-nya seorang penjual yang profesional biasa-nya memiliki waktu kerja yang sangat flexible dan tidak terikat working hour.

Biasa-nya seorang penjual dapat mengatur dengan baik jadwal pertemuan-nya dengan calon pembeli, sehingga terkadang susah terikat dengan waktu kerja. Disatu sisi dia memiliki waktu kerja dengan pola yang tidak menentu, tapi disisi lain inilah hal menarik-nya dia dapat menentukan waktu kerja-nya menjadi sangat optimal.

Menentukan waktu kerja, bukankah itu impian semua orang?


Jadi bagaimana menurut kamu? Menjadi seorang sales yes or nope....? :)


Friday, January 2, 2015

Top 5 Skills Every Leader Must Have




The world moves fast and if you can't keep up, your company is doomed. Here are five skills that every leader must have to run a company in today's culture.

 1. Drown out the noise.
We live and work in a world that’s so overloaded with information, communication, and gadgets that fighting that irresistible and constant tug to text, tweet, and check our email is becoming harder and harder all the time. That trend is not likely to change anytime soon.
Ability to focus and prioritize has always been critical to success in just about any field, but these days, managing distraction and not succumbing to its addictive qualities has become remarkably challenging for even the most disciplined among us.
Make no mistake. If you can’t focus, you can’t get things done. And if you can’t get things done, somebody else will.

2. Recognize the bullsh*t.
When you question assumptions, claims, and viewpoints instead of just accepting them as gospel, as in "I saw it on the internet so it must be true," that's called critical thinking. It’s fundamental for smart decision-making. And that, in turn, is key to being successful at just about anything.
The concept dates back thousands of years to Socrates and Buddha's teachings. If you question conventional wisdom, challenge the status quo, and avoid collectivism and groupthink, you’re in good company. They’re all facets of the same concept.  
Here’s the thing. There’s so much garbage out there in the cloud, in social media, in blogs, on TV, in self-help books -- you name it -- that your ability to question what’s real and what isn’t, to reason logically and not generalize from a single data point, is more critical today than ever before.
And, in time, the world is only going to become more and more complex and, that’s right, full of stuff.   

3. Be more than an avatar. 
It’s ironic that, with all the hoopla over personal branding, self-expression, and the “Me” generation, I find that people are becoming more and more like internet avatars every day. In other words, there’s a tendency to hide behind our own social media creations. To become sound bites personified.
More than ever, we need a sense of humility and self-awareness to remind us that we're flesh and blood humans. That we’re not always the insanely great business leaders, managers, entrepreneurs, partners, parents, whatever, that we hold ourselves out to be.
Not only that, but the sheer volume of noise and time we waste on mindless distraction makes it that much harder to stay in touch with ourselves, to be quiet and reflect on what’s going on inside, to understand what our emotions are trying to tell us.  
And don’t even get me started on political correctness, that insidious worldwide trend that dumbs us all down to the lowest common denominator so no single individual is ever left out or made to feel uncomfortable or, God forbid, offended.
In a world of indistinguishable lemmings, where everyone tries to be different and, in so doing, ends up behaving exactly like everyone else, those who are genuine and self-aware will have a big advantage.

4. Truly connect with people.
Communication has always been the means by which great leaders achieve great things. But these days, communication occurs in sound bites, status updates, text messages, and tweets of 140 characters or less. More and more, communication is one-to-many, not one-to-one.
The problem with that is it’s mostly superficial and nobody’s got time to pay attention to even a tiny fraction of all the gigabytes being blasted at them every day.
As for all the online social networking we do, none of it’s even fractionally effective when compared with a simple real-time discussion or meeting.
Sure, the ability to write and speak effectively is perhaps more important today than ever before. But if you have that unique ability to listen and really hear what people are saying, to empathize, to really relate and truly connect with folks, then chances are you’ll be writing tomorrow’s success stories.

5. Get things done.
The idea that successful executives, entrepreneurs, and business leaders are typically driven by high aspirations is nothing but a popular myth. Most of those people didn't get to where they are by walking around with their heads in the clouds. They got there by putting one foot in front of the other and getting stuff done.
If they’re not motivated by grandiose dreams, then what does drive successful people? It’s usually one of three things: their job and a strong sense of personal responsibility, out of necessity to put food on the table and a roof over their family’s heads, or to bring a product to market they think is cool and that people might actually want or need.
Regardless of the reason, they get people working toward a common goal. They deliver the goods. They get the job done. They satisfy the needs of their customers. And in so doing, they take care of their families and stakeholders. That’s how things work in the real world.
These days we have more rhetoric, debate, analysis, studies, theories and research than ever before. We have more grandiose ideals than ever before. We have more rules and regulations than ever before. The challenge to get things done has never been greater and the need for leaders with that capability has never been more imperative.
That’s what I think you and your children will need to adapt to a changing world. Now, what do you think?

Tuesday, December 30, 2014

"Comfort Zone" stay or leave?

 

 Banyak tulisan atau gambar yang selalu mengatakan "get out from your comfort zone" atau "your dream outside your comfort zone". Nah sebenar-nya tau gak sih apa yang dimaksud dengan comfort zone?

Jangan sampai nanti salah kaprah bilang disuruh keluar dari comfort zone eh malah bukan impian yang didapat malah sial yang didapat... Ya kann??? 

Perlu diketahui juga diluar dari comfort zone juga terdapat yang disebut dengan strenght zone atau yang lebih dikenal dengan zona kekuatan anda atau apa yang dapat anda lakukan dengan sangat baik.

Kesalahan seseorang pada saat keluar dari comfort zone nya dia juga ikutan keluar dari strength zone-nya. Dimana ini adalah 100% fatal bagi orang tersebut.

Seorang koki yang sudah ternama di restoran bintang lima akhirnya memutuskan keluar dari comfort zone nya dan membuka restaurant baru. Namun tidak sampai 2 tahun malah restaurant-nya tutup. Pertanyaan nya, loh kok bisa? Kenapa hal ini terjadi?

Mari kita selidiki lebih dalam apa itu comfort zone dan apa itu strenght zone.


Kita lihat dari strenght zone yang artinya adalah "what you are good at." atau apa yang anda dapat lakukan sangat baik. Strenght zone ini berbicara mengenai keahlian anda, inti dari kekuatan anda yang memang itu adalah kelebihan anda sendiri. Sangat mudah bukan untuk mengidentifikasi keahlian anda, contoh apakah anda seorang koki, akuntan, sales atau pengusaha?  Coba lihat kedalam diri anda, apa yang anda sangat ahli dalam melakukan-nya dan apa kelemahan terbesar anda. Jangan lihat apa yang anda mimpikan dalam hidup ini, karena yang anda inginkan belum tentu menggambarkan kekuatan anda didalam-nya. In this case please be realistic ok :)




Kemudian kita akan lihat apa yang dimaksud dari comfort zone? Comfort zone adalah suatu situasi yang dimana anda telah melakukan semua nya dengan baik dan menguasai semua keadaan dengan batas status quo tertentu. Artinya adalah; misalkan anda seorang penjual yang handal dimana dalam sebulan anda selalu melakukan tutup closing dengan nilai value yang sama, atau contoh lain adalah seorang penulis novel yang selalu setiap tahun dengan sukses menerbitkan 2 buku novel terbaru-nya tanpa susah payah. Nah inilah yang disebut dengan situasi comfort zone.

Naaahhh kalau sudah jelas semua, sekarang kita lihat poin lebih dalam apa yang dimaksud dari keluarlah dari comfort zone anda? Yang dimaksud dari keluarlah dari comfort zone anda adalah keluarlah dari batas status quo anda saat ini, tapi jangan melenceng dari strenght zone anda. Artinya apa yang anda lakukan saat ini, lakukan dua kali lipatnya.. Kalo kata bule" sih "raise the bar".... Contoh nya adalah apabila anda seorang sales yang biasa nutup closing dengan value yang sama setiap bulan-nya maka naikan target anda untuk keluar dari comfort zone anda; atau seorang penulis buku novel yang setahun hanya menerbitkan dua buah buku mencoba untuk menerbitkan lebih lagi dalam setahun. Dengan melakukan lebih dari status quo anda saat ini maka anda akan keluar dari comfort zone anda dan meraih kesuksesan lebih tinggi lagi, namun disini anda tidak meninggalkan strenght zone anda sehingga kesuksesan pasti dapat anda raih.

So leaving your comfort zone outside your strenght zone... Think again my friend ;)

Sunday, December 21, 2014

Bagaimana meningkatkan kompetensi sebagai 'sales'?



Kalau kita melihat persaingan bisnis dari segi produk, harga dan promosi pasti tidak akan pernah ada habis-nya.. Tapi berbeda hal kalau kita berbicara dari sisi seorang penjual-nya...

Nah kalau sudah begini artinya perusahaan tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan dari strategi product ataupun marketing tetapi juga strategi dari pengembangan kompetensi dari penjual tersebut..

Fakta yang mengejutkan adalah ternyata sampai saat ini suatu produk yang memiliki merek yang sangat kuat biasa-nya akan memanjakan kemampuan penjual-nya. Tanpa harus susah payah produk itu telah terjual dengan sendiri-nya kepada konsumen, lama kelamaan kemampuan sales dalam hal ini menjadi penurunan didalam kualitas-nya.

Satu-satunya cara untuk tetap meningkatkan kompetensi seorang sales adalah dengan cara membangun 4 pilar utama yang harus dimililiki setiap penjual.


1. Kompetensi Personal
Kompetensi personal adalah kompetensi dasar yang harus dimiliki sebagai modal awal seseorang memulai karirnya. Kompetensi personal ini dapat dilihat dari sikap leadership, discipline, respect, integrity dan responsobility didalam diri seseorang. Semakin tinggi dia menerapkan hal ini maka semakin tinggi juga kredibilitas dia di antara penjual-penjual lain-nya dan inilah yang dapat membedakan antara penjual yang hanya mencari keuntungan dengan seorang penjual yang perduli dengan keadaan pembeli nya.

2. Kompetensi Professional
Kompetensi professional sangat dibutuhkan sebagai seorang penjual. Yang mencakup didalam kompetensi ini adalah dia harus sangat mengerti akan semua hal yang berhubungan denga pekerjaan dan posisi-nya seperti job role, position, product/service, report system, decision makim dan lainnya. Semakin kuat seseorang didalam kompetensi ini maka semakin baik pula dia dalam menjalankan proses pekerjaan-nya.

3. Kompetensi Methodological
Kompetensi ini biasa agak sering disepelekan oleh seorang sales. Karena kebanyakan motto sales hanyalah jual, jual, jual dan jual. Ya.. Motto ini bagus tapi bagaikan mencari pintu keluar didalam ruangan yang sangat gelap. Dibandingkan hanya berjualan atau closing, seorang sales harus paham betul metodologi atau bagai mana cara menjual yang baik dan tepat kepada calon pembeli. Apakah mengenai sales process, negotiation skill, presentation skills, handling objection atau argumentative skill. Tidak perlu waktu banyak, kita bisa mengetahui kualitas masing-masing sales yang kita miliki hanya melihat dari kompetensi ini saja.

4. Kompetensi Sosial
Yang terakhir adalah kompetensi sosial, hal ini menjadi kunci kesuksesan seorang sales dalam menemukan dan berinteraksi dengan target marketnya atau memperluas segmen pasar-nya. Ini juga dibutuhkan oleh seorang sales seperti, networking skills, communication skills, dan behavioral market understanding. Seseorang sales yang sangat memahami hal ini akan sangat mudah dalam mencari target marketnya tanpa perlu susah lagi untuk melakukan kanvasing.

So inilah yang dapat saya share ke teman-teman...  Semoga berguna :)

Happy selling and have a good day!!

Saturday, December 20, 2014

Saya berkerja di "back office", emang masih perlu networking???

Kebanyakan kalau kita bicara masalah networking, itu pasti urusan orang sales atau orang yang lagi ada kebutuhan untuk mengembangkan usahanya... Ya gak salah juga sih kalau pemikiran-nya kesitu... Soalnya sampai saat ini konotasi networking itu selalu di kaitkan sebagai marketing activity dalam brand awareness atau selling activity dalam meningkatan prospect.... (baru kenalan udah langsung jualan, woles donk bro....).

Untuk kalian yang pekerjaan-nya tidak pernah berhubungan dengan konsumen luar (back office) perusahaan pasti selalu berpikir buat apa harus cape-cape melakukan kegiatan ini? Apalagi networking, belum tentu bisa dibawa senang dalam kegiatan-nya karena membawa profesi professional seseorang (artinya kalo kamu lagi dugem, party atau DWP dan kenalan dengan seseorang itu tujuan-nya lebih bersenang-senang dan bukan networking yaaa... hahahaha). Dan pastinya ini akan mengeluarkan biaya??? So apakah betul saya perlu melakukan ini???

Nahhh... Networking atau lebih dikenal dengan kegiatan bersosialisasi secara profesional dimana ditujukan untuk kepentingan bisnis. Memang kegiatan ini lebih terkenal dikalangan frontliner, sales atau entrepreneur yang niat-nya ingin meningkatkan pangsa pasar atau volume penjualan. Apalagi kalau udah pakai sistem UUD (Ujung Ujung-nya Duit) atau balik modal dalam setiap melakukan kegiatan ini, bisa-bisa arti dari kegiatan ini sudah salah dalam perjemahan-nya.

Biasanya dalam aktivitas Networking kita lebih menekankan sisi profesionalitas kita (bekerja di perusahaan apa, bergerak di bidang apa, jabatan kita, dan lingkup pekerjaan) tanpa menekankan sisi berjualan atau mencari suatu komitmen bisnis dikegiatan ini. Hal yang paling berharga adalah bagaimana kita bisa mendapatkan berbagai informasi yang terjadi di industri bisnis kita, hal ini akan membantu memperluas wawasan kita pastinya.

Oleh karena itu memperluas sosialisasi tidak harus berujung kepada penjulan atau profit, tapi setidaknya dengan anda melakukan networking anda mengetahui apa yang sedang terjadi di lingkungan anda. Bagaimana sistem berjalan, inovasi-inovasi atau strategi terbaru dalam menjalankan pekerjaan anda lebih baik. Intinya lebih ke knowledge sharing dan ini lebih berharga dari sekedar memperbesar pangsa pasar. Informasi yang kamu dapatkan bisa memberikan efektifitas dan effisiensi lebih baik didalam profesionalisme.

Terus bagaimana saya memulai melakukan networking??

Simple saja, lakukan yang lebih sederhana dahulu sebelum ke tingkat yang lebih sulit.


http://www.onbile.com/info/wp-content/uploads/2012/07/Business-Social-Media.png
Option 1, gunakanlah Social Media sebagai salah satu alternatif paling simple didalam pengembangan networking anda.

Saat ini banyak sekali sosial media yang menyediakan wadah untuk berbagai kalangan yang ingin melakukan kegiatan networking. Disamping praktis dan tidak memakan waktu, social media menjadi salah satu trend paling diminati di kalangan anak muda. Apabila kita melihat perkembangan teknologi di gadget yang sangat cepat, ini menjadi wadah yang paling dinikmati dalam melakukan kegiatan Networking.


http://www.okalpha.com/assets/220/Cheap.holiday.in.Italy.flights.to.Italy.travel.cheap.package.discounts.Italy.Golf.Activity.Holiday.jpg

Option 2, Bergabunglah dengan beberapa kegiatan klub sosialita.

Ini adalah kegiatan yang sangat menarik, biasa-nya ini bisa dibarengin dengan hobby si pelaku netwotking. Contoh-nya bergabung didalam klub golf, klub wine, atau apapun itu juga (disesuaikan berdasarkan target market yang ingin anda tuju) . Memang didalam kegiatan ini pasti akan memakan budget anda, tetapi disamping itu biasa kegiatan ini jauh lebih menyenangkan. Disamping anda menikmati aktivitas didalam klub ini, anda juga akan banyak menemui potensial market dengan hobby atau ketertarikan yang sama.



https://allhealthwellness.files.wordpress.com/2014/02/running-image.jpg

 Option 3, aktif mengikuti public event atau gathering.

Kebanyakan event ini diciptakan oleh pihak ke 3 dan kita harus menunggu momen ini untuk muncul. Disamping kita pasif didalam kegiatan ini, market segmen yang datang ke event ini juga terlalu besar segmen-nya sehingga kita agak sulit mencari network yang sesuai dengan kebutuhan kita.

So... itulah opini saya... apa yang harus ditunggu lagi... mulailah melakuan networking dari saat ini juga :)